Pernah mencari tontonan untuk mengisi waktu luang, tetapi justru kembali memilih kartun favorit? Menonton kartun saat dewasa bisa terasa seperti membuka kembali bagian hidup yang menyenangkan. Namun, ketertarikan tersebut tidak harus berhenti pada kenangan masa kecil.
Sebagian penjelasannya dapat ditelusuri melalui penelitian tentang nostalgia dan kedekatan dengan acara televisi favorit. Sementara itu, contoh dari dunia animasi memperlihatkan alasan lain: cerita yang menyentuh pengalaman manusia. Dengan kata lain, yang menarik bukan hanya gambarnya, melainkan hubungan kita dengan cerita tersebut.
Lantas, mengapa sebuah tokoh animasi masih mampu membuat kita tertawa, berpikir, bahkan terharu? Berikut beberapa sudut pandang yang membantu menjawabnya, tanpa menganggap semua penonton memiliki alasan yang sama.
Kartun Bukan Hanya untuk Anak-Anak
Pertama, bentuk animasi tidak otomatis menentukan kedalaman ceritanya. Dalam penjelasan kategori animasi, Academy of Motion Picture Arts and Sciences menyebut karya animasi dapat bersifat lucu maupun serius. Selain itu, animasi dapat mengeksplorasi suasana hati dan gagasan, bukan hanya menyampaikan petualangan tokoh.
Karena itu, menilai kartun hanya dari penampilan karakter akan melewatkan sebagian kemungkinan yang ditawarkannya. Bentuk tubuh yang lucu dapat hadir dalam cerita tentang kegagalan. Sebaliknya, gambar sederhana bisa menjadi cara menyampaikan persoalan yang sulit dijelaskan.
Bagi pembaca, pembedaan ini penting sebelum bertanya apakah kartun pantas dinikmati orang dewasa. Pertanyaan yang lebih berguna justru berkaitan dengan isi: apakah cerita tersebut menarik, relevan, atau menyenangkan? Dengan pendekatan ini, pilihan tontonan tidak perlu bergantung pada anggapan bahwa gambar bergerak selalu berarti cerita anak.
Nostalgia Membuat Menonton Kartun Terasa Dekat
Selanjutnya, nostalgia memberikan penjelasan tentang kuatnya hubungan dengan tontonan lama. University of Southampton menjelaskan bahwa suara, benda kenangan, dan pengalaman yang akrab dapat memicu nostalgia. Kenangan tersebut sering berkaitan dengan masa kecil atau hubungan yang bermakna.
Sebagai contoh, bayangkan seseorang mendengar lagu pembuka kartun yang dahulu ia tonton bersama kakaknya. Namun, yang muncul dalam ingatan mungkin bukan hanya tokoh utamanya. Ia juga teringat ruang keluarga, makanan ringan, atau kebiasaan berebut tempat duduk.
Dalam hal ini, kartun menjadi pintu menuju pengalaman pribadi. Karena itu, menonton kartun lama bukan semata-mata mengulang cerita yang sudah diketahui.
Menurut rangkuman Southampton, nostalgia dapat memperkuat rasa keterhubungan dan kesinambungan antara diri pada masa lalu dengan masa kini. Namun, pengalaman nostalgia tidak selalu sepenuhnya menyenangkan atau bermanfaat bagi setiap orang. Rasa hangat dapat bercampur dengan kehilangan dan kerinduan.
Dengan demikian, menikmati kartun lama tidak harus berarti ingin kembali menjadi anak-anak. Sebaliknya, seseorang mungkin sedang menghargai bagian hidup yang ikut membentuk dirinya.
Karakter Favorit Terasa seperti Teman Lama
Selain kenangan, hubungan dengan tokoh favorit juga layak diperhatikan. Penelitian yang diumumkan University at Buffalo pada 2009 menemukan bahwa acara televisi favorit dapat memberikan pengalaman merasa terhubung. Para peneliti membahas kedekatan satu arah dengan karakter atau figur televisi dalam konteks kebutuhan akan rasa memiliki.
Namun, penelitian tersebut membahas acara televisi secara umum, bukan khusus kartun. Oleh sebab itu, penerapannya pada penggemar animasi merupakan kemungkinan penjelasan, bukan kesimpulan tentang semua penonton.
Coba bayangkan tokoh yang ceritanya sudah Anda ikuti bertahun-tahun. Anda mengenal kebiasaannya, memahami kelemahannya, bahkan menantikan reaksinya ketika menghadapi masalah. Karena itu, menonton kartun favorit dapat terasa seperti menjumpai sosok yang sudah akrab.
Meski demikian, peneliti juga mengingatkan bahwa pengalaman tersebut bukan pengganti yang setara bagi hubungan manusia secara langsung. Karena itu, kesenangan mengikuti karakter fiksi sebaiknya tetap berjalan berdampingan dengan hubungan di luar layar. [3]
Cerita Animasi Menyentuh Persoalan Orang Dewasa
Alasan berikutnya muncul dari isi cerita itu sendiri. Film animasi tidak perlu menampilkan tokoh yang seusia penontonnya untuk menawarkan pertanyaan yang relevan. Sebagai gambaran, persoalan tentang ambisi atau penerimaan diri bisa menarik perhatian tanpa bergantung pada bentuk visual karakter.
Ambisi dan Arah Hidup dalam Soul
Dalam pengenalan resmi Pixar, Soul mengikuti Joe Gardner, seorang guru musik yang ingin menjadi pianis jazz profesional. Namun, perjalanan tak terduga memaksanya memikirkan kembali arti hidupnya.
Dari premis tersebut, penonton dewasa dapat mengajukan pertanyaan pribadi. Apakah pekerjaan harus selalu menjadi pusat identitas? Lalu, bagaimana kita menilai kehidupan ketika kenyataan tidak sesuai dengan impian?
Pertanyaan itu merupakan pembacaan terhadap cerita, bukan jawaban yang wajib diterima setiap penonton. Meski begitu, contohnya memperlihatkan bahwa menonton kartun dapat melibatkan perenungan, bukan hanya menikmati kelucuan.
Emosi yang Lebih Rumit dalam Inside Out 2
Sementara itu, wawancara resmi Disney dengan Pete Docter membahas upaya Inside Out 2 memvisualisasikan emosi yang lebih abstrak. Tujuannya adalah membuat gagasan tersebut lebih mudah dipahami melalui tampilan karakter.
Dengan kata lain, pendekatan ini menawarkan bahasa gambar untuk membicarakan pengalaman batin. Misalnya, penonton dapat bertanya kapan rasa malu memengaruhi pilihan mereka atau mengapa kekhawatiran terasa sulit diabaikan.
Namun, film tetap merupakan karya cerita, bukan panduan diagnosis. Nilainya dalam pembahasan ini terletak pada kemampuannya membuka percakapan tentang perasaan.
Menonton Kartun dengan Sudut Pandang Baru
Menonton kartun yang sama tidak harus menghasilkan pembacaan yang sama. Untuk melihat kemungkinannya, bayangkan Anda mengulang cerita tentang seorang tokoh yang ingin meninggalkan rumah. Sewaktu kecil, bagian paling menarik mungkin perjalanan dan petualangannya.
Kemudian, setelah memiliki pengalaman merantau, perhatian Anda bisa beralih pada adegan perpisahan. Dialog yang dahulu terlewat kini terasa lebih dekat. Sementara itu, penonton lain mungkin justru tertarik pada kekhawatiran keluarga yang tinggal.
Contoh tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman pribadi dapat menjadi sudut pandang saat membaca cerita. Oleh sebab itu, kita tidak harus menyimpulkan bahwa filmnya berubah. Sebaliknya, pertanyaan yang kita bawa ketika menontonlah yang berbeda.
Karena itu, mencoba menonton ulang dapat menjadi eksperimen pribadi yang menarik. Perhatikan adegan yang dahulu disukai, lalu bandingkan dengan bagian yang sekarang paling membekas. Hasilnya tidak harus mendalam; menemukan lelucon yang tetap lucu pun sudah merupakan kesenangan tersendiri.
Humor Membuat Menonton Kartun Tetap Menyenangkan
Di sisi lain, tidak semua alasan menyukai animasi perlu terdengar filosofis. Dalam wawancara Disney, Docter juga menekankan unsur hiburan, lelucon fisik, dan humor yang muncul dari situasi yang terasa akrab.
Sebagai contoh sederhana, bayangkan karakter yang berusaha terlihat percaya diri, tetapi rencananya justru berantakan. Kita dapat menikmati ironi situasinya tanpa harus menganggap tokoh tersebut realistis.
Selain itu, kelucuan tidak selalu bergantung pada kejutan akhir. Anda mungkin sudah mengetahui kapan kekacauan terjadi, tetapi tetap menikmati ekspresi dan jeda sebelum leluconnya selesai.
Dengan kata lain, alasan untuk menonton kartun boleh sesederhana ingin tertawa. Tidak setiap waktu luang harus menghasilkan pelajaran, keterampilan, atau pencapaian baru. Menikmati sebuah adegan karena lucu merupakan alasan yang cukup tanpa perlu membuktikan bahwa tontonan itu meningkatkan produktivitas.
Seni Animasi Juga Menarik untuk Dinikmati
Selain cerita dan humor, animasi menawarkan pekerjaan artistik yang dapat diperhatikan dengan sengaja. Dalam ulasan acara tentang Richard Williams, Academy membahas berbagai contoh pencapaian animasi, termasuk gerak karakter, penggambaran air, dan pembangunan suasana.
Karena itu, pengalaman menonton kartun tidak harus berhenti pada pertanyaan tentang apa yang terjadi selanjutnya. Kita juga dapat memperhatikan bagaimana sebuah adegan bekerja.
Misalnya, amati perubahan ekspresi tokoh sebelum ia mengucapkan sesuatu. Kemudian, perhatikan bagaimana gerakan tubuh memperjelas maksud dialog. Selain itu, coba dengarkan hubungan antara musik dan suasana gambar.
Pendekatan tersebut merupakan cara menikmati karya, bukan kewajiban memahami teknik profesional. Bahkan, Anda tidak perlu mengenal istilah animasi untuk mengagumi gerakan yang terasa hidup. Dengan perhatian yang berbeda, tontonan yang tampak ringan dapat menjadi kesempatan menghargai pilihan artistik pembuatnya.
Menonton Kartun sebagai Jeda dari Rutinitas
Setelah hari yang padat, memilih hiburan yang disukai dapat menjadi bentuk waktu luang. Namun, anggapan bahwa menonton pasti membuat semua orang lebih rileks terlalu sederhana.
Riset yang diumumkan Johannes Gutenberg University Mainz pada 2014 memperlihatkan hubungan yang lebih rumit. Dalam survei terhadap 471 peserta, rasa bersalah karena menganggap penggunaan media sebagai penundaan tugas berkaitan dengan pengalaman pemulihan yang lebih rendah. Penelitian tersebut menelaah televisi dan permainan digital, bukan khusus animasi. [7]
Karena itu, konteks menonton perlu diperhatikan, bukan hanya jenis tontonannya. Menikmati satu episode setelah menyelesaikan urusan penting berbeda dari terus menonton sambil memikirkan pekerjaan yang mendesak.
Sebagai langkah praktis, tentukan ruang untuk hiburan sesuai kebutuhan Anda. Setelah itu, perhatikan apakah kebiasaan tersebut membantu menikmati waktu luang atau justru menambah persoalan. Kartun tidak harus menjadi solusi bagi setiap rasa lelah, dan jeda juga dapat mengambil bentuk kegiatan lain.
Berbagi Tontonan Menjadi Bahan Percakapan
Terakhir, menonton kartun juga dapat menjadi kegiatan bersama. Anda bisa mengajak teman membahas tokoh favorit atau bertukar pendapat tentang satu adegan. Namun, percakapan tidak perlu berubah menjadi perdebatan tentang siapa yang memahami film dengan paling benar.
Sebagai contoh, tanyakan bagian mana yang paling lucu dan mengapa. Kemudian, bandingkan alasan masing-masing tanpa mengharuskan jawaban yang sama. Seseorang mungkin menyukai dialognya, sedangkan orang lain lebih tertarik pada ekspresi karakter.
Untuk kegiatan bersama keluarga, pilih cerita yang sesuai dengan usia dan kenyamanan peserta. Jangan menganggap semua animasi cocok untuk anak hanya karena tampilannya berwarna-warni.
Dengan cara ini, tontonan menjadi titik awal interaksi, bukan pengganti interaksi itu sendiri. Kesenangannya juga tidak harus berasal dari kesamaan pendapat, melainkan kesempatan memahami cara orang lain menikmati cerita.
Kesimpulan: Bertambah Usia Tidak Mengharuskan Kita Meninggalkan Kartun
Pada akhirnya, ketertarikan pada kartun dapat dibaca melalui beberapa sudut: kenangan pribadi, kedekatan dengan tokoh, dan ketertarikan pada cerita. Namun, penelitian tentang nostalgia atau televisi tidak memberi satu jawaban yang berlaku untuk seluruh penggemar animasi.
Menonton kartun juga dapat menjadi pilihan untuk menikmati humor dan seni bercerita. Karena itu, pertanyaan terpenting bukan apakah usia Anda sudah terlalu tua, melainkan apa yang Anda nikmati dari pengalaman tersebut.
Selama memberi ruang bagi tanggung jawab dan hubungan di luar layar, Anda tidak perlu membuktikan kedewasaan dengan meninggalkan semua kesenangan lama. Bisa jadi, kartunnya tetap sama, tetapi Anda menemukan alasan baru untuk menyukainya.
